Pencak Silat, Upaya Menepis Wajah Kampungan.

    [
in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

PENCAK silat masih dianggap merupakan seni bela diri produk Melayu yang kalah pamor dibanding seni bela diri impor lainnya? Ketua Persilat (Persekutuan Silat Antarbangsa), Eddie M Nalapraya mengakui hal itu. Ditegaskan salah satu program utama dari IPSI (Ikatan Pencak silat Seluruh Indonesia) adalah terus menerus memasyarakatkan pencak silat agar tak lagi dianggap sebagai seni bela diri yang berkelas kampungan.

Orang Jepang sangat bangga dengan seni bela dirinya, sementara kita malu untuk membanggakan seni bela diri warisan leluhur ini. Belum lagi adanya egoisme perguruan sehingga sempat terjadi gontok-gontokan antarperguruan silat. Tak heran, akhirnya istilah pencak silat terkesan ‘kampungan’, dan ini yang terus-menerus kita kikis habis, ujar Eddie, usai terpilih kembali sebagai Ketua Persilat dalam kongresnya yang berlangsung akhir bulan April lalu di Jakarta.

Pencak silat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka berarti, permain-an (keahlian) dalam mempertahankan diri dengan kepandaian menangkis, mengelak, dan sebagainya. Silat diartikan sebagai olahraga (permainan) yang didasari ketangkasan menyerang dan membela diri, baik dengan atau tanpa senjata.

Bersilat adalah bermain (atau berkelahi) dengan menggunakan ketangkasan menyerang dan mempertahankan diri. Sedangkan pencak silat bermakna, kepandaian bertarung dalam pertandingan (atau perkelahian) seni bela diri khas Indonesia.

***

DALAM arti sesungguhnya, disepakati ada empat aspek yang terkandung dalam pencak silat. Yaitu sarana pembinaan mental spiritual, bela diri, olahraga, dan seni. Seperti tercermin dalam lambang trisula, di mana ketiga ujungnya mencerminkan unsur seni, bela diri dan olahraga, sementara gagangnya diyakini melambangkan mental spiritual.

Sebagai seni, pencak silat merupakan wujud perilaku budaya suatu kelompok, yang di dalamnya terkandung unsur adat, tradisi, hingga filsafat. Hal itu menjadi penyebab perbedaan gerakan silat antara suatu daerah dengan daerah lainnya di Tanah Air ini. Demikian pula dengan jenis musik yang meng-iringi gerakan-gerakan silat yang seperti tarian lemah gemulai tersebut.

Sebagai olahraga, dalam perkembangannya pencak silat melangkah menjadi suatu jenis ‘gerak badan’, senam atau jurus yang dapat dipertandingkan. Perkembangannya kian pesat, setelah disepakatinya suatu aturan pertandingan olahraga pencak silat, seperti kelas peserta, luas arena, dewan pendekar, dewan hakim, ketua pertandingan, dewan wasit dan juri, la-manya pertandingan setiap ba-baknya, seragam pertandingan dan sebagainya.

Sebagai bela diri, pencak silat memang tumbuh berawal dari naluri manusia untuk melakukan pembelaan terhadap se-rangan fisik yang menghampirinya. Seseorang yang menguasai pencak silat (pendekar) diharapkan mampu melindungi diri dari setiap serangan, atau bah-kan bisa mendahului menyerang untuk menghindari ‘kerusakan’ yang lebih besar.

Seorang pendekar mampu mengembangkan daya tempurnya, sehingga dalam tempo singkat berhasil memenangkan pertarungan. Berarti, dia harus memiliki kemampuan mengatur siasat/strategi bertempur (dalam bahasa Jawa, gelar), baik saat satu lawan satu, atau dikeroyok beberapa orang lawan.

Sebagai pembinaan mental spiritual atau olah batin, lebih banyak ditujukan untuk membentuk sikap dan watak kepribadian. Faktor ajaran agama yang menyertai latihan pencak silat, biasanya berperan besar untuk mengembangkan fungsi ini. Sulit ditunjukkan secara eksplisit produk dari pembinaan mental spiritual tersebut, namun banyak atraksi yang dipamerkan seperti permainan debus, penyembuhan spiritual, serta demonstrasi tenaga dalam, yang merupakan wujud dari keberhasilan latihan olah batin itu.

Seperti peranan gagang pada trisula yang sangat vital, maka unsur-unsur yang ada dalam pencak silat (seni, bela diri, dan olahraga) harus dilandasi mental spiritual yang baik. Seperti dituturkan pesilat Persauda-raan Setia Hati, Murhananto, Sebagai seni budaya Bangsa yang berlandaskan Pancasila, pencak silat harus berlandaskan kepercayaan terhadap ke-Esaan Sang Pencipta.

***

MASALAHNYA saat ini sudah sulit ditemukan pesilat yang menguasai ilmu pencak silat secara utuh, yakni menguasai unsur seni, olahraga, tempur dan olah batin. Hal ini harus diakui karena kondisi di masa lampau, di mana pencak silat masih dipenuhi hal-hal yang tabu dan ada larangan tak tertulis untuk membuka diri bagi anggota suatu perguruan. Ini membuat sebagian besar pendekar-pendekar lebih memilih menutup diri dibandingkan secara transparan mengajarkan ilmunya ke orang lain. Para pendekar itu bahkan tak peduli jika mereka seolah-olah berada di luar struktur kemasyarakatan.

Salah seorang Pewaris 18 Guo Perkumpulan Bangau Putih, R. Suhardi Adimarjono alias Hardi pernah melontarkan, ibarat ilmu sains, maka pencak silat sebagai ilmu akan kian tersumbat (mati) jika tak terus-menerus diajarkan kepada orang lain. Seperti dalam doktrin perguruan kami, ilmu harus dikembalikan kepada alam dan kebudayaan. Sebab jika tak mengalir (disumbat), ilmu itu akan kian rontok dan kian hari kemampuan murid-murid yang mempelajarinya hanya semakin pas-pasan saja, ujar pelukis ternama ini.

Dampak buruk dari ketertutupan pendekar itu, ujar Hardi, adalah munculnya perguruan baru secara diam-diam dari orang-orang yang pernah diajari si pendekar itu. Dia memberi contoh, fenomena silat Cimande. Menurutnya, saat ini sangat sulit untuk mencari siapa guru besar dari aliran silat Cimande tersebut, padahal banyak perguruan yang menggunakan elemen-elemen gerakan silat Cimande dalam setiap gerakan yang diajarkannya.

Makin lama keaslian gerakan pencak silat itu makin luntur, sehingga kian banyak pesilat yang hanya menguasai unsur olahraga semata. Gerakannya semakin tak ubahnya dengan pendekar dari seni bela diri yang lain. Contohnya, tendangan T (lurus ke samping) dan acung (lurus ke depan) di pencak silat mirip dengan keikome geri dan mae geri di karate.

Secara kasat mata memang masih ada perbedaan, yakni di pencak silat didominasi gerakan mirip tarian, sementara pada bela diri yang lain dominan dengan gerakan keras sejak awal hingga selesai. Hal itu masih ditambah teriakan keras (di karate disebut kiai), yang di pencak silat tak begitu akrab dilakukan.

Makin lama, perguruan-perguruan pencak silat lebih banyak mementingkan pembinaan unsur olahraga. Lebih banyak menekankan faktor ke-atletan pesilatnya, yakni pesilat usia muda yang didukung tenaga yang besar, sehingga mampu memukul atau menjatuhkan lawan dengan KO (knock out). Karenanya, Penngurus Daerah IPSI di seluruh Tanah Air harus tak bosan-bosannya mengingatkan perguruan pencak silat, untuk mengawasi pesilatnya agar tak sedikit pun meninggalkan napas atau ciri khas pencak silat dalam setiap gerakannya.

Secara ringkas ada tiga prinsip teknis olahraga pencak silat, yakni teknik sambut serangan, penerapan teknik tinggi untuk meraih nilai penuh, serta selalu menggunakan kaidah-kaidah silat. Teknik dan taktik sambut serangan, yakni tindakan saat menerima serangan lawan, dengan menangkis, menghindar, mengelak dan kemudian membalas menyerang.

Sedangkan penerapan teknik tinggi adalah penerapan teknik sulit atau yang mengandung risiko tinggi, namun dengan imbalan nilai maskimal jika berhasil melakukannya. Misalnya, teknik menjatuhkan dan mengunci.

Hal penting yang tak boleh diabaikan oleh pesilat mana pun adalah mengenai kaidah-kaidah dalam pertarungan silat. Yakni bermula dari sikap pasang (siap tempur) sebagai sikap taktik sebelum bertanding, kemudian melangkah dengan terpola, serta koordinasi yang baik dalam melakukan tangkisan atau serangan. Setiap usai serangan atau tangkisan yang dilakukan dalam beberapa gerakan beruntun, pesilat harus kembali dalam sikap pasang tersebut.

Dalam setiap gerakan pencak silat (sebagai olahraga), unsur-unsur seni dan bela diri tentu harus tercermin. Sedangkan aspek pembinaan mental spiritual sudah terimplementasi di dalamnya. Misalnya, walau tak ada peraturan tertulis, namun seorang pesilat dilarang menyerang lawan yang sedang mengembangkan kaidah-kaidah perguruannya.

Jika kekhasan gerakan silat itu terus dipertahankan oleh siapa pun orang berkiprah di dunia silat, bahkan kemudian membakukannya, maka pencak silat semakin kukuh menjadi salah satu bentuk identitas budaya Indonesia. Sebagai seni bela diri, dia berdiri sendiri dan tak kalah tangguh dibanding seni bela diri mana pun, sehingga wajah kampungan di pencak silat bisa dicuci bersih.

Sumber kompas

www.silatindonesia.com



Artikel Pencak Silat, Upaya Menepis Wajah Kampungan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


    - Powered by BING [2014-12-19 08:33]

    Leave Comment

    You must be logged in to post a comment.